FUNGSI TRANSENDENTAL

Fungsi tansendental merupakan fungsi eksponensial, fungsi logaritma, fungsi trigonometri dan inversnya serta fungsi hiperbola dan inversnya. Berikut ini beberapa subbab yang diberikan mengenai fungsi transendental. Anda dapat mengklik tautan link dibawah ini:

1. Fungsi Logaritma Asli
2. Fungsi Invers dan Turunannya
3. Fungsi Eksponen Asli
4. Fungsi Eksponen Umum dan Logaritma Umum
5. Pertumbuhan dan Peluluhan Eksponen
6. Fungsi Trigonometri Invers
7. Turunan Fungsi Trigonometri dan Inversnya
8. Fungsi Hiperbola dan Inversnya

Demikianlah postingan tentang fungsi transendental, sampai jumpa dan semoga bermanfaat.

SISTEM BILANGAN RIIL

Apakah bilangan riil itu dan apa sifat-sifatnya?
Untuk menjawab ini, kita mulai dengan beberapa sistem bilangan yang lebih sederhana.
Bilangan-bilangan bulat dan rasional Diantara sistem bilangan, yang paling sederhana adalah bilangan-bilangan asli, yakni 1, 2, 3, 4, …
dengan bilangan ini kita dapat menghitung buku-buku kita, teman-teman kita, dan uang kita he he he..
Jika kita gandengkan negatifnya dan nol maka kita peroleh bilangan-bilangan bulat:
…, $-3$, $-2$, $-1$, 0, 1, 2, 3, …
Jika kita mengukur panjang, berat, atau tegangan listrik, bilangan-bilangan bulat tidak memadai, karena bilangan bulat kurang memadai. Kita dituntun untuk juga mempertimbangkan hasil bagi (rasio) dari bilangan-bilangan bulat, yaitu bilangan-bilangan seperti:
$\frac{3}{4}$, $\frac{-7}{8}$, $\frac{21}{5}$, $\frac{19}{-2}$, $\frac{16}{2}$, dan sebagainya, yang mana bilangan ini disebut sebagai bilangan rasional. Dapat kita definisikan suatu bilangan rasional dituliskan dalam bentuk $\frac{m}{n}$, dimana $m$ dan $n$ adalah bilangan-bilangan bulat dengan $n \ne 0$.
Apakah bilangan-bilangan rasional berfungsi mengukur semua panjang? jawabnya tidak, Fakta yang mengejutkan ini pertama kali ditemukan oleh orang Yunani kuno beberapa abad sebelum masehi. Mereka memperlihatkan bahwa ini berkaitan dengan rumus pytagoras yang menggunakan operasi akar. Misalkan suatu segitiga sama kaki siku-siku dengan panjang sisi apotema $\sqrt{2}$, meskipun nilai ini merupakan panjang sisi miring segitiga itu, tetapi bilangan ini tidak dapat dituliskan sebagai suatu hasil bagi dari dua bilangan bulat, karena nilai dari $\sqrt{2}$ memiliki desimal yang tak terbatas sehingga ia disebut bilangan irrasional.
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
Bilangan-bilangan riil Setelah kita mengetahui bilangan-bilangan yang disebutkan diatas yakni bilangan asli, bulat, rasional, dan irrasional, maka kita akan mengetahui apa itu bilangan real.

Bilangan riil adalah sekumpulan bilangan rasional dan irrasional yang dapat mengukur panjang, bersama-sama dengan negatifnya dan nol.

Perhatikan bahwa bilangan asli dan bilangan bulat itu termasuk kedalam bilangan rasional. Bilangan-bilangan riil dapat dipandang sebagai pengenal (label) untuk titik-titik sepanjang garis mendatar. Di sana bilangan-bilangan ini mengukur jarak ke kanan atau ke kiri (jarak berarah) dari suatu titik tetap yang disebut titik asal atau titik 0. Walaupun kita tidak mungkin memperlihatkan semua label itu, tiap titik memang mempunyai label tunggal bilangan riil. Bilangan ini disebut koordinat titik tersebut. Dan garis koordinat yang dihasilkan diacu sebagai garis riil.
Terdapat lambang-lambang baku untuk mengenali kelas-kelas bilangan yang sejauh ini telah dibahas. Mulai sekarang $N$ menyatakan himpunan bilangan asli (bilangan bulat positif), $Z$ menyatakan himpunan bilangan bulat, $Q$ menyatakan himpunan bilangan rasional, dan $R$ menyatakan himpunan bilangan riil. Perhatikan bahwa
$N \subset Z \subset Q \subset R$
dimana $\subset$ adalah lambang himpunan bagian, dibaca subset atau himpunan bagian dari. Kemudian dapat kita gambarkan pencakupan bilangan itu sebagai:

Perlu diketahui bahwa bilangan yang mencakup seluruhnya adalah bilangan kompleks, pada pertemuan ini tidak dijelaskan mengenai bilangan kompleks.
Empat Operasi Hitungan Dengan dua bilangan riil $x$ dan $y$, kita dapat menambahkan atau mengalikan keduanya untuk memperoleh dua bilangan riil baru, yakni $x+y$ dan $x.y$ (biasanya cukup ditulis dengan $xy$). Penambahan dan perkalian mempunyai sifat-sifat yang telah dikenal berikut. Selanjutnya, kita menyebutnya sifat-sifat medan.

Sifat-Sifat Medan:
1. Hukum Komutatif, $x+y=y+x$ dan $xy=yx$
2. Hukum Asosiatif, $x+(y+z)=(x+y)+z$ atau $x(yz)=(xy)z$
3. Hukum Distributif, $x(y+z)=xy+xz$
4. Elemen-elemen identitas, terdapat dua bilangan riil yang berlainan 0 dan 1 yang memenuhi $x+0=x$ dan $x.1=x$
5. Balikan (invers), setiap bilangan $x$ mempunyai balikan aditif (disebut juga sebuah negatif), $-x$, yang memenuhi $x+(-x)=0$. Juga setiap bilangan $x$ kecuali 0 mempunyai balikan perkalian (disebut juga kebalikan) atau $x^{-1}$ yang memenuhi $x.x^{-1}=1$

Sekian postikan kali ini, sampai jumpa dan semoga bermanfaat. MathJax.Hub.Config({ tex2jax: {inlineMath: [[‘$’,’$’], [‘\\(‘,’\\)’]]} });

Sudut antara dua tali busur jika titik potongnya di luar lingkaran.

 Jika dua tali busur yang tidak sejajar tidak berpotongan di dalam lingkaran, tentunya perpanjangan kedua tali busur itu berpotongan di luar lingkaran. Seperti ditunjukkan dalam gambar berikut:

Pada gambar tersebut, perpanjangan tali busur AB dan perpanjangan tali busur DC berpotongan di titik E di luar lingkaran. 

Untuk mencari besar sudut AEC, kamu perlu mengetahui hubungan antara jumlah sudut dalam dan sudut luar pada sebuah segitiga.

Dari gambar tersebut diperoleh:

Sudut ABD = 1/2 x Sudut AOD 

dan

Sudut BDC = 1/2 x Sudut BOC.

Pada setiap segitiga, jumlah dua sudut dalamnya sama dengan besar sudut luar dari sudut dalam yang ketiga. Dengan demikian, pada segitiga BED berlaku hubungan:

Sudut AEC + Sudut BDC = Sudut ABD,

hanya jika, Sudut AEC = Sudut ABD – Sudut BDC.

Karena Sudut ABD = 1/2 x Sudut AOD, dan Sudut BDC = 1/2 x Sudut BOC, maka diperoleh:

Sudut AEC = 1/2 x (Sudut AOD – Sudut BOC).

Dari uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa:

Besar sudut antara dua tali busur jika titik potongnya di luar lingkaran sama dengan setengah kali selisih sudut-sudut pusat yang menghadap busur lingkaran yang berada di depan dan di belakangnya. 

Unsur-Unsur Lingkaran

 Amatilah lingkaran pada gambar berikut:

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
Titik A, B, C, D, dan F terletak pada lingkaran. Titik O berada di tengah-tengah ruas garis AB dan ruas garis CF. Titik E berada di tengah-tengah ruas garis AC. Unsur-unsur Unsukaran dapat diuraikan sebagai berikut:

  1. Titik O disebut pusat lingkaran yaitu titik tertentu yang mempunyai jarak yang sama terhadap semua titik pada lingkaran.
  2. Ruas garis OA disebut jari-jari lingkaran, yaitu jarak dari pusat lingkaran ke titik pada lingkaran. Dapatkah kamu menunjukkan jari-jari lingkaran yang lain?, Coba sebutkan.
  3. Ruas garis AB disebut diameter atau garis tengah, yaitu ruas garis yang menghubungkan dua titik pada lingkaran yang melalui titik pusat. Sebutkan diameter lingkaran lainnya.
  4. Garis lengkung ADC disebut busur lingkaran (busur AC), yaitu suatu lengkung yang melalui titik-titik pada lingkaran. Sebutkan busur lingkaran lainnya.
  5. Ruas garis AC disebut tali busur, yaitu ruas garis yang menghubungkan dua titik pada lingkaran. Sebutkan tali busur lainnya.
  6. Daerah lingkaran yang dibatasi oleh ruas garis OB, OC dan busur lingkaran BC disebut juring OBC (juring lingkaran), yaitu daerah lingkaran yang dibatasi oleh sebuah busur lingkaran dan dua jari-jari. Sebutkan juring lingkaran lainnya.
  7. Daerah yang dibatasi oleh ruas garis AC dan busur lingkaran AC disebut tembereng, yaitu daerah lingkaran yang dibatasi oleh sebuah tali busur dan busur lingkaran.
  8. Ruas garis OE disebut apotema tali busur, yaitu jarak dari pusat lingkaran ke tali busur.
Itulah unsur-unsur yang terdapat pada lingkaran. Sekian postingan ini, semoga bermanfaat.

How to quickly find quadratic results number two digits

In the posting this time explains how fast looking for find quadratic results number two digits. Earlier we’ve definitely know how to conventional search for a result quadratic of a number two digits. But different in a manner that the following. Here is a formula essentially:
$(ab)^2=a^2 \quad a(b)(2) \quad b^2$
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({}); Where $a$ and $b$ are the original number.
Now Look at this example well!
Example 1:
$13^2=1^2 \quad 1(3)(2) \quad 3^2$ $=169$

Example 2:
$27^2=2^2 \quad 2(7)(2) \quad 7^2$ $=4 \quad 28 \quad 49$
Remember the summation technique with the way down, than:
$= 4 \quad (28+4=32) \quad 9$
$=4+3 \quad 2 \quad 9$
So, $27^2=729$

Example 3:
$87^2=64,112,49$ $=64,116,9=7569$
So, $87^2=7569$

Example 4:
$79^2=49,126,81$ $=49,134,1=6241$
So, $79^2=6241$

Ok friends, thank you for your hobby you guys with math, to see you and good luck. MathJax.Hub.Config({ tex2jax: {inlineMath: [[‘$’,’$’], [‘\\(‘,’\\)’]]} });

PEUBAH ACAK

Bidang statistika berurusan dengan penarikan inferensi tentang populasi dan sifat populasi. Percobaan yang dilakukan memberi hasil yang berkemungkinan. Pengujian sejumlah suku cadang elektronik merupakan suatu contoh percobaan statistika, suatu istilah yang memberikan setiap proses yang menghasilkan pengamatan yang berkemungkinan. Sering sekali amat penting mengaitkan suatu bilangan sebagai pemberian hasil tersebut. Sebagai contoh, ruang sampel yang memberikan secara rinci setiap kemungkinan hasil bila tiga suku cadang elektronik diuji dapat ditulis sebagai:
T = {BBB, BBC, BCB, CBB, BCC, CBC, CCB, CCC},
Bila B menyatakan ‘baik’ dan C menyatakan ‘cacat’. Tentunya kita ingin mengetahui berapa banyaknya cacat yang terjadi. Jadi setiap titik di ruang sampel akan dikaitkan dengan suatu bilangan 0, 1, 2, atau 3. Bilangan ini tentunya besaran acak yang ditentukan oleh hasil percobaan. Bilangan ini dapat dipandang sebagai nilai yang dicapai oleh peubah acak X banyaknya barang yang cacat bila tiga suku cadang elektronik diuji.
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Definisi:
Peubah acak ialah suatu fungsi yang mengaitkan suatu bilangan real pada setiap unsur dalam ruang sampel.

Peubah acak akan dinyatakan dengan huruf besar, misalnya X, sedangkan nilainya dinyatakan dengan huruf kecil padanannya, misalnya x. Dalam contoh suku cadang elektronik tadi, peubah acak X mendapat nilai 2 untuk semua unsur pada himpunan bagian
E = {CCB, CBC, BCC}
Dari ruang sampel T. Jadi, tiap kemungkinan nilai X menggambarkan suatu kejadian yang merupakan ruang bagian dari ruang sampel percobaan tersebut.
Contoh 1:
Dua bola diambil satu demi satu tanpa dikembalikan dari suatu kantung berisi 4 bola merah dan 3 bola hitam. Bila Y menyatakan jumlah bola merah yang diambil maka nilai y yang mungkin dari peubah acak Y adalah …
Penyelesaian:
Ruang sampel T = {MM, MH, HM, HH}
Nilai y sesuai T = {2, 1, 1, 0}
Contoh 2:
Tiga orang petani: Pak Ali, Badu, dan Cokro menitipkan pecinya di pagi hari pada seorang anak. Sore harinya si anak mengembalikan peci tersebut secara acak pada ketiga petani. Bila Pak Ali, Badu, dan Cokro dalam urutan seperti itu menerima peci dari si anak maka tuliskanlah titik sampel untuk semua urutan yang mungkin mendapatkan peci tersebut dan kemudian cari nilai c dari peubah acak C yang menyatakan jumlah urutan yang cocok.
Jawab:
Bila A, B, dan C menyatakan masing-masing peci Pak Ali, Badu, dan Cokro maka susunan pengembalian peci yang mungkin dan padanan yang cocok (c) adalah:

Ruang Sampel $\quad$c $\quad$
ABC $\quad$ 3
ACB $\quad$ 1
BAC $\quad$ 1
BCA $\quad$ 0
CAB $\quad$ 0
CBA $\quad$ 1

Dalam kedua contoh di atas ruang sampel mengandung jumlah anggota yang berhingga. Akan tetapi, bila satu dadu dilantunkan sampai angka 5 muncul, maka diperoleh ruang sampel dengan deretan anggota yang tak berhingga
T = {L, BL, BBL, BBBL, … }
Dengan L menyatakan munculnya 5 dan B bukan 5 yang muncul. Tetapi dalam percobaan inipun banyaknya unsur dapat disamakan dengan seluruh bilangan bulat sehingga terdapat unsur pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya, jadi dapat dicacah.

Definisi:
Jika suatu ruang sampel mengandung titik yang berhingga banyaknya atau sederetan anggota yang banyaknya sebanyak bilangan bulat, maka ruang sampel itu disebut ruang sampel diskret.

Hasil suatu percobaan statistika mungkin saja tak berhingga ataupun tak terhitung. Contoh seperti itu, misalnya penelitian mengenai jarak yang ditempuh bila suatu mobil merek tertentu dijalankan pada jalan tertentu dengan 5 liter bensin. Bila dimisalkan jarak sebagai suatu peubah yang diukur dengan suatu derajat ketelitian tertentu maka jelas bahwa kemungkinan jarak yang ditempuh dalam ruang sampel tak berhingga banyaknya sehingga tidak mungkin disamakan dengan banyaknya bilangan bulat. Begitupun bila kita ingin mencatat lamanya waktu yang diperlukan oleh suatu reaksi kimia, maka sekali lagi selang waktu yang dapat dibuat untuk ruang sampel banyaknya takberhingga dan takterhitung. Jadi terlihat sekarang bahwa ruang sampel tidak selalu diskret.

Definisi:
Bila ruang sampel mengandung titik sampel yang takberhingga banyaknya dan banyaknya sebanyak titik pada sepotong garis, maka ruang sampel itu disebut ruang sampel kontinu.

Suatu peubah acak disebut peubah acak diskret bila himpunan kemungkinan hasilnya terhitung. Karena kemungkinan nilai Y pada contoh 1 di atas adalah 0, 1, dan 2 dan kemungkinan nilai C di contoh 2 di atas adalah 0, 1, dan 3, maka Y dan C adalah peubah acak diskret. Peubah acak yang dapat memperoleh semua nilai pada skala kontinu disebut peubah acak kontinu. Sering pula kemungkinan nilai suatu peubah acak kontinu tepat sama dengan nilai pada ruang sampel kontinu. Hal ini terjadi misalnya bila peubah acak menggambarkan jarak tempuh suatu mobil merek tertentu pada suatu uji jalan menggunakan 5 liter bensin.
Dalam kebanyakan persoalan praktis, peubah acak kontinu menyatakan data yang diukur, seperti seluruh kemungkinan tinggi, berat, temperatur, jarak, atau jangka hidup, sedangkan peubah acak diskret menggambarkan data cacah seperti banyak barang yang cacat dalam sampel sebesar k barang atau banyak korban meninggal di suatu jalan raya per tahun. Perhatikan bahwa peubah Y dan C pada contoh 1 dan 2 menyatakan data cacah.
MathJax.Hub.Config({ tex2jax: {inlineMath: [[‘$’,’$’], [‘\\(‘,’\\)’]]} });

GREEDY PRINCIPLE

Hi friends mathematic.my.id..
on this occasion will be explained about the Greedy Principle.
The problem of optimization is a demanding problem optimum solution search. The optimum (best) solution is a valuable solution minimum or maximum set of alternative possible solutions. Example from Optimization issues are:
• Finding the shortest path from home to market
• Select activities to schedule the most productive activities
• Looking for a minimum step to sort the sequence of numbers
• Finding the maximum value of …
• Finding the minimum value of …
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
The greedy algorithm is the most popular method for solving optimization problem. At each step, we make local optimum choices (choices best at the moment) in the hope that the remaining steps lead to the optimum solution global (the best overall solution). Greedy algorithm always chooses the best choice of each step regardless of other choices. In other words, The greedy principle is take what you can get now.
For greedy to be used, an issue must have two things:
1. Optimal Sub-structures
The optimal solution to a problem contains the optimal solution to subproblems.
2. Greedy Property
If we choose the optimal choice at a step, and finish the rest then, we still find the optimal solution. (We don’t need to reconsider the previous choice).
It should be noted that not all optimization problems can be solved by greedy algorithm. But if it can be used, the solution will be very easy. Will be explained several theories related to the greedy algorithm, along with examples of classic greedy issues.

Inequality Rearrangement
Rearrangement inequality is an inequality that is often used in make optimal permutations. For example
$a_1 \le a_2 \le … \le a_n$ and
$b_1 \le b_2 \le … \le b_n$ then:
$\sum \limits^{n}_{i=1} a_i.b_i \le \sum \limits^{n}_{i=1} a_i.b_{\sigma (i)} \le \sum \limits^{n}_{i=1} a_i.b_{n-i+1}$
Where $\sigma (i)$ is the $i$-number of random permutations of the number $b$.

Its use will be explained in the following example:
Suppose that in set $A$ there are $n$ numbers $A_1$, $A_2$, …, $A_n$.
For example also in set B there are n other numbers $B_1$, $B_2$, …, $B_n$.
We want to pair each number from set $A$ with exactly one number in set $B$, multiplying these two pairs of numbers and adding up the results.
Based on Inequality Rearrangement obtained:
* To get the maximum total, pair the largest number in $A$, with the largest number in $B$. Then, the second largest in $A$, with the second largest in $B$, and so on until the smallest number in $A$ is paired
with the smallest number in $B$.
* To get the minimum total, pair the largest number in $A$, with the smallest number in $B$. Then, the second largest in $A$, with the second smallest in $B$, and so on until the smallest number in $A$ is paired with
largest number in $B$.
Suppose set $A$ is {9, 6, 2, 5, 1}
Then, set $B$ is {8, 3, 4, 0, 7}
To get the sum of the multiplications of each pair maximum, sort both together (both up / down):
9$\quad$ 6$\quad$ 5$\quad$2 $\quad$ 1 $\quad$
8$\quad$7$\quad$4$\quad$3 $\quad$0
The result is: 9×8 + 6×7 + 5×4 + 2×3 + 1×0 = 72 + 42 + 20 + 6 + 0 = 140
This is an installation that produces a maximum total to get the sum of the multiplications of each pair maximum, sort both together (both up / down):
9$\quad$6$\quad$5$\quad$2$\quad$1
0$\quad$3$\quad$4$\quad$7$\quad$8
The result is: 9×0 + 6×3 + 5×4 + 2×7 + 1×8 = 0 + 18 + 20 + 14 + 8 = 60
This is an installation that produces a minimum total to be sure, try a different installation from the two installations on.

Example:
Coin Change (for certain nominal sets)
In a Dengklesia country there is a Gordian currency consisting of coins
100,000 gordi, 50,000 gordi, 20,000 gordi, 10,000 gordi, 5,000 gordi, 2,000 gordi,
1,000 gordi, 500 gordi, 200 gordi and 100 gordi. Mr. Dengklek is currently trading in the country. Mr. Dengklek who is known to be stingy always wants change given to buyers using as few coins as possible.
For example when Mr. Dengklek wants to give a change of 600 gordi, he prefers a combination of {1 coin 100 gordi, 1 coin 500 gordi} which is a sum of 2 coins instead of a combination of {3 fractions 200 gordi}, which is a sum of 3 coins.
If one day pack Dengklek must provide a change of 362,800 gordi, what is the minimum number of coins he must spend?
Answer:
The above problem is referred to as coin change. For certain fractions, we are can use the greedy principle to solve the problem. Strategy greedy that is used is to always choose the largest value coins maybe at every step. For this problem, by always taking coins the biggest, we are sure to use the fewest coins. That is :
Step 1) The remaining 362,900 returns. Use 3 pieces of 100,000
Step 2) The remaining 62,900 returns. Use 1 piece of 50,000 pieces
Step 3) The remaining 12,900 returns. Use 1 10,000 piece
Step 4) The remaining 2,900 returns. Use 1 2,000 pieces
Step 5) Remaining 900 returns. Use 1 piece of 500 pieces
Step 6) Remaining 400 returns. Use 2 pieces of 200 pieces
Step complete.
In this way, we only use 9 coins. This is a solution minimal.
Not all types of coins can be solved by the greedy principle, one
an example is if there are only 1,200 gordi of coins, 800 gordi, 400 gordi,
and 100 curtains. If we want to give a refund of 1,200, then with greedy principle, we will use a combination of {1$\quad$1,000 coins, 2$\quad$100 coins} i.e. 3 coin.
Even though the minimum solution is a combination of {1 800 coins, 1 400 coins}, i.e. only 2 coins.

maybe until here the discussion this time and greetings to share ..

MathJax.Hub.Config({ tex2jax: {inlineMath: [[‘$’,’$’], [‘\\(‘,’\\)’]]} });

LUAS SEGITIGA PADA KOORDINAT KARTESIUS MENGGUNAKAN DETERMINAN MATRIKS

Hai sahabat mathematic.my.id apa kabar semuanya..
Semoga kita semua masih diberikan kesehatan karena kesehatan sangat mahal harganya.

Baiklah pada postingan yang singkat ini akan dijelaskan bagaimana cara mencari luas segitiga pada koordinat kartesius dengan menggunakan determinan. Segitiga dapat dibentuk dari tiga titik koordinat kartesius, tiga titik itu tidak segaris, ya kalau segaris dia bukan segitiga namanya tapi menjadi garis 😁.
Tentunya kita harus mengetahui terlebih dahulu cara mencari hasil determinan. Pada materi kali ini determinan yang dipakai adalah determinan ordo 3×3. Kita dapat menggunakan metode sarrus. Berikut ini metodenya:
Diketahui matriks $M=\begin {bmatrix} a & b & c \\ d & e & f \\ g & h & i \end {bmatrix}$,
metode sarrus dengan menambahkan dua kolom pertama menjadi
$\begin {vmatrix} a & b & c & | & a & b \\ d & e & f & | & d & e \\ g & h & i & | & g & h \end {vmatrix}$.
Kemudian kalikan dengan pola berbentuk belah ketupat yang menghasilkan:
det $M$ = $(a.e.i+b.f.g+c.d.h)$
$-(c.e.g+a.f.h+b.d.i)$.

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
Kembali ke topik pembahasan luas segitiga pada koordinat kartesius. Berikut ini rumus luas segitiga pada koordinat kartesius:
Misalkan ketiga titik $J(a, b)$, $K(c, d)$, dan $L(e, f)$ membentuk sebuah segitiga, maka luas segitiga
$=$harga mutlak dari $\frac{1}{2}$$\begin {vmatrix} a & b & 1 \\ c & d & 1 \\ e & f & 1 \end {vmatrix}$
dimana koefisien $\frac{1}{2}$ dan bilangan 1 sudah menjadi ketentuan.

Perhatikan contoh berikut:
Contoh:
Tentukan luas segitiga yang terbentuk dari titik $A(0, 1)$, $B(1, 3)$ dan $C(2, 5)$.
Jawab:
$L=\frac{1}{2}$$\begin {vmatrix} 0 & 1 & 1 \\ 1 & 3 & 1 \\ 2 & 5 & 1 \end {vmatrix}$
$=\frac{1}{2}.[(0+2+1)-(6+0+1)]$
$=\frac{1}{2}(3-7)=-2$
harga mutlak nya = 2. Jadi luas segitiga itu 2 satuan luas.

Mudah sekalikan teman-teman, dari penjelasan diatas bila kurang mengerti dipersilahkan berkomentar yg telah tersedia dibawah. Mungkin sampai disini postingan singkat kali ini semoga bermanfaat..
Salam berbagi..
MathJax.Hub.Config({ tex2jax: {inlineMath: [[‘$’,’$’], [‘\\(‘,’\\)’]]} });

BILANGAN e dan manfaatnya dalam sains dan teknologi.

Pada pertemuan kali ini akan dijelaskan tentang bilangan $e$ dan beberapa manfaatnya dalam bidang kajian sains dan teknologi. Baiklan ini dia pembahasannya:
Konstanta matematika e adalah basis dari logaritma alami. Kadang-kadang disebut juga bilangan Euler sebagai penghargaan atas ahli matematika Swiss, Leonhard Euler, atau juga konstanta Napier sebagai penghargaan atas ahli matematika Skotlandia, John Napier yang merumuskan konsep logaritma untuk pertama kali. Bilangan ini adalah salah satu bilangan yang terpenting dalam matematika, sama pentingnya dengan 0, 1, i, dan π. Bilangan ini memiliki beberapa definisi yang ekuivalen; sebagian ada di bawah.

Nilai bilangan ini, dipotong pada posisi ke-30 setelah tanda desimal (tanpa dibulatkan), adalah:

e ≈ 2,71828 18284 59045 23536 02874 71352

Sejarah Singkat

Pada tahun 1647 Saint-Vincent menghitung suatu daerah di bawah hiperbola persegi panjang.Apakah dia mengetahui hubungan antara daerah di bawah hiperbola persegi panjang berhubungan dengan logaritma? Hal ini masih diperdebatkan. Saat tahun 1661 Huygens memahami hubungan antara hiperbola persegi panjang dengan logaritma. Dia memeriksa secara eksplisit dan intensif hubungan antara daerah di bawah persegi panjang hiperbola “yx = 1” dan logaritma. Tentu saja, nilai e adalah sedemikian rupa sehingga daerah di bawah hiperbola persegi panjang dari 1 sampai e sama dengan 1. Tetapi karyanya tidak benar-benar diakui karena dia tidak menyebutkan bilangan ‘e’ secara jelas atau eksplisit.

Jacob Bernoulli menggunakan teorema binomial untuk menunjukkan bahwa batas itu harus terletak antara 2 dan 3 sehingga kita bisa menganggap hal ini menjadi pendekatan pertama ditemukannya e. Dia juga menerima ini sebagai definisi e. Akan tetapi jelas tidak mengakui hubungan antara karyanya ada kaitannya dengan pada logaritma.

Saat ini tentu saja dari persamaan x = at, kami menyimpulkan bahwa t = log x di mana basis log nya a. Dari sini kita benar-benar berpikir bahwa log adalah sebuah fungsi, sementara awal logaritma terfikirnya atau diciptakan adalah sebagai alat bantu perhitungan. Jacob Bernoulli lah yang pertama kali memahami bahwa fungsi log adalah kebalikan dari fungsi eksponensial.

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
Pada tahun yang sama itu Leibniz menulis surat kepada Huygens dan dalam hal ini ia menggunakan notasi b untuk apa yang sekarang kita sebut e. Akhirnya nomor e punya nama (bahkan jika tidak salah satu yang sekarang) dan itu yang diakui. Mungkin sekarang sobat allmipa bertanya kenapa kita tidak belajar sejarah bilangan ‘e’ dari pertama kali nilai ‘e’ muncul. Alasannya adalah karena walaupun pekerjaan yang sebelumnya kita bahas, tidak menyebutkan atau mengatur tentang apa itu ‘e’, perlahan-lahan setelah ‘e’ didefinisikan kita mulai menyadari bahwa karya sebelumnya relevan. Kilas baliknya, perkembangan awal logaritma merupakan bagian dari pemahaman tentang nilai ‘e’.

Nah sekarang pertanyaannya Kenapa e? Kenapa tidak a, b, atau c, atau d atau alfabey yang lain?

Hal itu dikarenakan Leonhard Euler lah yang pertama kali menemukan bahwa e notasi untuk nomor ini. Ada yang mengklaim bahwa Euler menggunakan huruf e karena itu huruf pertama dari namanya. Ini mungkin terjadi karena e berasal dari “eksponensial”. Apapun alasannya, notasi e pertama kali muncul dalam sebuah surat Euler kepada Goldbach pada tahun 1731. Dia membuat berbagai penemuan mengenai e tahun-tahun berikutnya, tetapi tidak sampai 1748 ketika Euler menerbitkan “Introductio di analysin infinitorum” Dia menunjukkan bahwa :
e = 1 + 1/1! + 1/2! + 1/3! + …

Dalam suatu analisis matematika, Identitas Euler adalah persamaan:

Di mana persamaan tersebut menunjukkan pada kita sobat allmipa bahwa ada hubungan yang erat antar kelima bilangan paling penting dalam matematika, yaitu:
0 adalah identitas penjumlahan
1 adalah identitas perkalian
e adalah bilangan Euler, basis logaritma natural, yang nilainya adalah mendekati 2.71828182845905,
i adalah unit imajiner, salah satu dari dua bilangan kompleks yang kuadratnya negatif satu (bilangan yang satu lagi adalah -i), dan
adalah Pi, rasio perbandingan antara keliling lingkaran dengan diameternya, yang nilainya adalah mendekati 3.14159265358979.
Harap perhatikan juga bahwa dalam persamaan tersebut terdapat operasi dasar aritmetika yaitu penjumlahan, perkalian, dan perpangkatan, dan masing-masing muncul satu kali.
Identitas Euler diciptakan atau ditujukan untuk mengenang ahli matematika Leonhard Euler.
Secara geometris persamaan ini dapat dibayangkan sebagai rotasi titik (1, 0) pada bidang kompleks sebesar 180° (radian), dilanjutkan dengan translasi sebesar 1 searah sumbu X. Deretan transformasi tersebut tiba pada titik asal (0, 0).

Penggunaan Bilangan e

* Bunga Bank
Awalnya, pada abad ke-17, seorang fisikawan dan matematikawan bernama Jacob Bernoulli tertarik dengan masalah bunga bank. Misalkan kita menyimpan uang 1 dolar di bank dan bank memberikan beberapa penawaran bunga seperti berikut ini.

Bank mau memberikan bunga 100% setiap tahun. Setelah setahun uang kita akan bertambah 100% sehingga di tahun berikutnya uang kita menjadi (1 + 1 × 100%) dolar = 2 dolar.
Penawaran 50% setiap 6 bulan sekali. Dalam 6 bulan pertama uang kita menjadi (1 + ½), dan enam bulan berikutnya menjadi (1 + ½) + [(1 + ½ ) × ½] = 1 × (1 + 1/2)2 = 2,25 dolar. Wow! Semakin beruntung!

Bagaimana jika kita buat penambahan bunganya semakin sering? Misalnya, penawaran 1 kali dalam sebulan untuk setahun dengan bunga (1/12) dari tabungan awal. Kita akan mendapat 1 × (1 + 1/12)12 = 2,61 dolar.
Untuk penawaran 1 kali dalam satu minggu dengan bunga (1/52) dari tabungan, kita bisa mendapatkan 1 × (1 + 1/52)52 = 2,69 dolar.
Bagaimana jika bunganya semakin sering seperti dalam sehari, setiap jam, setiap menit, setiap detik, setiap nanodetik, dan seterusnya menjadi pemberian bunga yang selalu berlanjut? Berapa hasil yang didapat untuk pemberian bunga yang selalu berlanjut itu? Itulah yang Bernoulli ingin ketahui. Namun, dia tidak berhasil mendapatkannya saat itu. Dia hanya mengira bahwa hasil itu haruslah suatu angka di antara 2 dan 3. Nah, 50 tahun kemudian Euler yang berhasil menemukannya. Euler mendefinisikannya sebagai formula baru, yaitu:

* Menghitung jumlah penduduk

untuk menghitung jumlah penduduk suatu negara jika diketahui laju pertumbuhan. Misalkan Indonesia memiliki laju pertumbuhan penduduk r = 1,2% per tahun. Pada tahun 2013, jumlah penduduk Indonesia adalah P0 = 249,9 juta jiwa. Dengan memanfaatkan bilangan Euler, jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2023 (atau 10 tahun kemudian) dapat diprediksi sebagai berikut:

* Fisika Atom

Di dalam pelajaran fisika atom, bilangan e sering dipakai untuk mengukur peluruhan unsur radioaktif. Contoh kasusnya, jika 100,0 mg neptunium-239 (239Np) meluruh menjadi 73,36 mg setelah 24 jam, berapakah laju peluruhan per harinya? Kita bisa menggunakan persamaan berikut ini:

dengan λ adalah laju peluruhan. Perhatikan pangkat negatif pada argumen e menunjukkan bahwa nilai N selalu meluruh atau lebih kecil dibandingkan N0. Dengan memasukkan bilangan-bilangan yang diketahui, kita bisa uraikan:

Dengan demikian, kita peroleh laju peluruhan neptunium adalah sekitar 31% per hari.

Sekian postingan kali ini, semoga bermanfaat.
MathJax.Hub.Config({ tex2jax: {inlineMath: [[‘$’,’$’], [‘\\(‘,’\\)’]]} });

Modul Eksponen dan Logaritma

Postingan kali ini saya akan membagikan materi eksponen dan logaritma melalui disertai dengan aplikasi dalam masalah nyata yg saya bagikan melalui google drive.
Eksponen dan Logaritma itu membahas tentang bagaimana sifat sifat perpangkatan bilangan. Eksponen itu mencari hasil perpangkatan. Logaritma itu mencari pangkatnya.

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
Perhatikan bentuk berikut:
Untuk bentuk eksponen:
$a^b=c$

Sedangkan untuk bentuk logaritma itu ada 2 versi.

Dari bentuk eksponen diatas maka bentuk logaritmanya (versi pertama) adalah:
$^alog(c)=b$

dan versi keduanya adalah:
$log_a (c)=b$

bisa kita lihat bahwa eksponen itu dua bilangan yg dipangkatkan, dan logaritma itu mencari nilai pangkat dari persamaan eksponen.

Kita hanya tinggal mengubah bentuknya saja, dari bentuk eksponen menjadi bentuk logaritma.
Untuk lebih jelasnya, maka saya akan membagikan materinya dalam bentuk file pdf.
Berikut ini filenya:

Materi Eksponen dan Logaritma

Mungkin sekian dulu postingan ini, semoga artikel ini bermanfaat.
MathJax.Hub.Config({ tex2jax: {inlineMath: [[‘$’,’$’], [‘\\(‘,’\\)’]]} });

#searchbox { background: url(http://4.bp.blogspot.com/-u0fEq-zSTYI/VD1gGDLy3aI/AAAAAAAAAhw/im3bcQd5wBM/s1600/search-box.png) no-repeat; height: 27px; width: 202px; } input:focus::-webkit-input-placeholder { color: transparent; } input:focus:-moz-placeholder { color: transparent; } input:focus::-moz-placeholder { color: transparent; } #searchbox input { outline: none; } #searchbox input[type=”text”] { background: transparent; margin: 0px 0px 0px 12px; padding: 5px 0px 5px 0px; border-width: 0px; font-family: “Arial Narrow”, Arial, sans-serif; font-size: 12px; font-style: italic; width: 77%; color: #828282; display: inline-table; vertical-align: top; } #button-submit { background: url(http://2.bp.blogspot.com/-4OxjMRukhCM/VD1gBscpzII/AAAAAAAAAhk/TUxMSv7bCzA/s1600/search-button.png) no-repeat; border-width: 0px; cursor: pointer; width: 30px; height: 25px; } #button-submit:hover { background: url(http://4.bp.blogspot.com/-GgNBTS_3FEA/VD1gBgm7RFI/AAAAAAAAAhg/flg6VijzW8E/s1600/search-button-hover.png) no-repeat; } #button-submit::-moz-focus-inner { border: 0; }

Privacy Policy

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai